Kiriman pada: Sat, Feb 20th, 2016

Sesungguhnya Muslim Itu Bersaudara

Kongsi maklumat ini
Tags

saudara-suyana-smart-sssSuatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik membingcangkan sesuatu.

Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegang seorang pemuda yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata dua beradik itu berkata :
“Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”

“Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”.

Umar segera bangkit dan berkata :
“Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?”

Pemuda itu menunduk sesal dan berkata :
“Benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tegas Umar.

Pemuda itu pun memulakan ceritanya :

“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mengamanahkan aku untuk suatu urusan muammalah untuk ku selesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, aku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). setelah kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku telah terlepas dan merosak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu.

Sesungguhnya, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan ku bunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah kepada kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya dibunuh.

“Tegakkanlah had Allah atasnya!” kata yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda tadi.

“Sesungguhnya yang kamu tuntut ini adalah seorang pemuda yang salih dan baik budinya. Dia membunuh ayah kamu berdua kerana khilaf kemarahan yang amat sangat”, katanya.

“Izinkan aku, meminta kepada anda berdua agar memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu”, penjelasan dari Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda yang masih marah.

“Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan redha jika kematiannya belum dibalas dengan jiwa”.

Umar semakin bimbang, di hatinya telah timbul rasa simpati kepada si pemuda yang pada pandangan dan penilaiannya sebagai seorang yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda berkata :
“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku redha dengan ketentuan Allah”, ujarnya dengan tegas.

“Namun, izinkan aku untuk selesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku masa 3 hari. Aku akan kembali untuk dihukum”.

“Mana boleh?”, kata kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

“wahai orang muda, tidak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk meneruskan urusanmu?”, tanya Umar.

“Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin”.

“Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang tanggungjaqab kaumku bersamaku?”, pemuda itu bertanya kepada Umar.

“Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada orang yang mahu menjadi penjamin, agar kau akan kembali untuk menepati janji.” kata Umar.

“Aku tidak memiliki seorang ahli keluarga pun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah menjadi penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang orang ramai terdengar suara lantang :
“Jadikanlag aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin”.

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata sedemikian

“Salman?” hardik Umar marah.

“Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.

“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa!!, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda terswbut. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Kerana mudah saja jika si pemuda itu mahu menghilangkan diri.

Hari ketiga pun tiba. Orang ramai mula meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mula khuwatir nasib yang akan menimpa Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari siang mula menuju ke akhir, orang ramai yang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda mula merasa resah gelisah, sementara Umar berjalan mundar-mandir menunjukkan kegelisahannya.

Kedua pemuda yang menuntut hukuman kecewa kerana keingkaran janji si pemuda tadi.

Akhirnya tiba waktu hukuman hendak di jalankan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat perhimpunan. Hadirin mulai menangis, kerana mereka kan menyaksikan seorang yang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan kelihatan bayangan orang sedang berlari tunggang- langgang, jatuh, bangkit, jatuh lagi, kemudian bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.

“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya yang bermandikan peluh dan nafas tercungap-cungap, si pemuda itu terus rebah di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak ku sangka… urusan kaumku… memerlukan… banyak… waktu…”.

”Ku tunggang kuda ku.. tanpa henti, hingga… ia tidak mampu meneruskannya di gurun… dan terpaksa… kutinggalkan… lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau boleh saja menghilangkan diri?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan… di kalangan Muslimin… tak ada lagi manusia jujur … menepati janji…” jawab si pemuda sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan rasa terharu, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”

Kemudian Salman menjawab :
” Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mahu menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mula banyak yang menahan tangis terharu dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda yang menuntut huluman menjerit.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak dan kagum.

“Saudara sekelian..” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa saudara.?” Umar semakin terharu.

Kemudian kedua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mahu memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

”Allahu Akbar!” di sambut para hadirin.

Terpancarlah tangisan bahagia, terharu dan sukacita oleh semua yang hadir.

MasyaAllah…, saya bangga menjadi muslim… bersamalah kita, saudara saudara semuslim agar memuliakan Islam dengan menyampaikan pesan nasihat-Nya untuk berada dijalan-Nya..

Allahu Akbar…!

Mengenai pengirim

Dipamirkan 1 komen
Sila nyatakan komen anda

Berikan komen anda

Anda mesti mendaftar masuk untuk memberi komen.